Remaja Indonesia

Informasi terkini seputar remaja Indonesia dari berbagai sumber media online.

Monday, September 05, 2005

Profil: ALI SUCIPTO DAN PURNAWIRMAN

Indonesia kembali mengukir prestasi di bidang sains. Teman-teman kita berhasil menyumbangkan empat medali emas, satu medali perak, dua medali perunggu serta satu gelar Honorable Mention pada Olimpiade Fisika Asia (OFA) VI yang di selenggarakan di Pakanbaru, Riau, bulan April 2005 kemarin.

Medali emas Indonesia disumbangkan Ali Sucipto T, Purnawirman, Andhika Putra dan Michael Adrian. Kita kenalan lebih dekat dengan Ali Sucipto dan Purnawirman dulu ya.

Ali Sucipto

Ali yang berpostur tinggi-besar dan berkaca mata minus ini adalah siswa SMA Xaverius, Palembang, Sumatera Selatan. Sejak SD, ia selalu menjadi bintang kelas. Tapi bukan berarti Ali langsung suka dengan Fisika. Rasa sukanya timbul waktu melihat kakak seniornya di SMA Xaverius mengukir prestasi di bidang ini.

Kebetulan juga ia akrab dengan kakak seniornya itu. Jadi deh Ali tertular semangat untuk mengolah Fisika. Hasilnya, sejak kelas II SMA ia sudah masuk program training Olimpiade Fisika di sekolah. Dan ternyata kecintaannya pada Fisika berbuah hasil.

Ali yang lahir di Palembang tahun 1987 ini mengaku sangat percaya diri waktu menghadapi Olimpiade Fisika tahun ini. "Terus terang, sejak awal saya sangat percaya diri, karena soal-soalnya tidak jauh beda dengan konsep dasar yang dipelajari," kata pengagum ilmuwan Amerika, Richard Phillips Feynman.

Cita-citanya setelah keberhasilan ini adalah meraih kembali medali emas pada Olimpiade Internasional Spanyol tahun depan.

Purnawirman

Bisa meraih medali emas untuk negara jelas merupakan suatu prestasi yang membanggakan. Hal itulah yang dirasakan oleh Purnawirman, pelajar SMA I Pekanbaru. Sejak SMP, Purnawirman memang sangat menyukai pelajaran Fisika. Dibantu orangtua, kakak-kakak kelas dan gurunya di sekolah, ia pun kemudian berhasil memasuki seleksi demi seleksi untuk menjadi tim nasional Olimpiade Fisika.

Purnawirman yang lahir 8 Desember 1987 di Riau ini sangat terinspirasi oleh Albert Einstein dan Richard Feynman. Berkat kisah penelitan dua ilmuwan tersebut, Purnawirman pun bercita-cita untuk menjadi ilmuwan Fisika. Sama seperti Ali Sucipto, ia juga bertekad untuk mengulang kesuksesan di Olimpiade Fisika Internasional di Spanyol. (sekolahindonesia.com)

Profil: ASTON TAMINSYAH


Umurnya belum genap delapan tahun tapi prestasinya boleh diacungi jempol. Inilah Aston Taminsyah, peraih juara dunia catur antarsekolah di Halkidiki, Yunani bulan April kemarin. Ia berhasil memenangkan tujuh babak dari sembilan babak yang diikutinya sedang dua babak lainnya seri. Pertandingan itu diikuti oleh 196 pecatur cilik dari 20 negara. Hebat kan prestasinya Aston?

Kalau ada yang mengatakan Aston itu kecil-kecil cabe rawit, mungkin benar juga ya. Sejak usia tiga tahun, Aston sudah suka memecahkan soal tes IQ. Memiliki orangtua yang bekerja pada dunia teknologi informasi, Aston sudah kenal tuh yang namanya berselancar di internet sejak usia balita! Bahkan pada usia lima tahun, Aston sering membuat kesal sang ibu karena bisa bermain catur di internet sampai 13 jam. Ia memang suka sekali berselancar di dunia maya.

Melihat bakat dan minat yang besar pada catur, sang ayah pun mulai mengarahkan Aston untuk berkonsentrasi pada jalur olahraga ini. Pada usia enam tahun, Aston sudah berhasil menempati posisi 5 untuk kategori anak usia 10 tahun di Kejurnas Lampung 2004. Usai lomba, cita-cita Aston pun hanya satu, menjadi Percasi Master alias Masternya Pecatur di tanah air.

Agar bisa meraih gelar gran master catur, orangtua Astor pun akhirnya memutuskan jalan yang tak biasa. Supaya bisa mendapat pelatihan yang matang di dunia catur, Aston pun bersekolah di Sekolah Catur Utut Adianto di Bekasi. Sedang untuk ilmu pengetahuan, Aston bisa sekolah di rumah bersama sang ibu yang mengajarinya bahasa Inggris dan Matematika.

Di sekolah catur ini kemampuan Aston memang makin terasah. Ia dinilai hebat dalam berbagai teori, walapun dari segi tata krama ia mendapat predikat kurang baik karena sering melakukan kenakalan. Ia pun sering memprotes materi pengajaran yang diberikan guru-gurunya.

GM Utut Adianto berharap kalau Aston nantinya bisa menjadi juara dunia di kelompok umur 10 tahun. Bahkan pemilik sekolah catur tempat Aston bersekolah, Eka Putra Wirya, percaya kalau Aston bisa memecahkan rekor gran master termuda di Indonesia. Saat ini penyandang rekor tersebut adalah GM Susanto Megaranto yang meraihnya di usia 17 tahun. Sedang untuk tingkat dunia, gelar tersebut dipegang oleh GM Sergey Karyakin dari Ukraina yang menjadi gran master di usia 12 tahun. Selamat berjuang Aston! (sekolahindonesia.com)

Thursday, September 01, 2005

Profil: FATHIA PRINASTITI SUNARSO

Satu lagi, putri Indonesia meraih prestasi di ajang kompetisi science tingkat dunia. Kali ini giliran Fathia Prinastiti Sunarto. Ia berhasil menjadi juara pertama sekaligus meraih medali emas dalam International Mathematic and Science Olympiad (IMSO) 2004 yang diselenggarakan di Jakarta, November tahun lalu.

Siswi kelas VI SD Bina Insani, Bogor yang akrab dipanggil Thia ini pantas bangga dengan prestasinya. Ia harus melewati perjuangan berat dengan kerja keras dan pasti melelahkan baik secara fisik dan mental. Apalagi ini adalah ajang kompetisi internasional, yang berarti ia harus mengalahkan siswa-siswa terbaik dari berbagai negara.

Sebelum menjadi juara tingkat internasional, Thia sudah meraih prestasi di Olimpiade Sains Nasional II di Pekanbaru, Agustus 2004. Predikat trofi The Best Experiment dan The Best Overall berhasil disandangnya.

Kompetisi IMSO 2004 yang kemudian Thia ikuti melombakan dua bidang bidang, yakni Matematika dan IPA dan diikuti oleh 11 negara. Untuk setiap bidang, Indonesia mengirimkan sembilan anak yang sudah diseleksi dan diberi pelatihan oleh Diknas. Seleksi ini dilakukan dari sekolah di tingkat kecamatan sampai nasional.

Awalnya, Thia sempat merasa pesimistis karena tidak dapat menyelesaikan tiga soal. Thia menyebutkan pesaing terberat di bidang IPA adalah dari Singapura, Taiwan dan Vietnam. Menurutnya, potensi anak Indonesia tidak kalah dengan anak dari negara-negara tersebut. Hanya saja ia merasa pemerintah kurang memerhatikan pendidikan.

"Pemberantasan korupsi juga penting, tetapi pendidikan anak-anak jauh lebih penting. Anak-anak itu, 20 atau 30 tahun ke depan, tidak akan tahu persoalan apa yang bakal terjadi. Karena itu harus dipersiapkan sedini mungkin," kata Thia.

Anak pertama dari Ir. Sunarso dan Ir. Arena Prima ini sedari kecil memang sudah dibimbing untuk mengembangkan bakat besarnya. Sang ibu sedari awal sudah berusaha untuk menggali dan mengetahui kemampuan anaknya, hingga berkonsultasi dengan psikolog. Ketika mengetahui Thia memiliki kemampuan cukup besar, ia pun berusaha memperkenalkan berbagai macam bidang yang disukai putrinya. Mulai dari musik, sosial sampai science.

Bukan hanya itu saja. Thia juga diajari oleh ibunya untuk selalu cinta membaca. Karena buku memiliki pengetahuan yang tidak terbatas, kalau kita bertanya pada buku, apa pun ada. Maka jangan heran apabila Thia saat ini memiliki cita-cita untuk menjadi seorang penulis.

Sedang mengenai prestasinya yang luar biasa di bidang science, ini karena Thia merasa bahwa science itu penting. "Science itu ilmu dasar. Science merupakan dasar dan benar-benar dipakai dan berguna di dunia ini."
(sekolahindonesia.com)

Profil: ALI SUCIPTO DAN PURNAWIRMAN

Indonesia kembali mengukir prestasi di bidang sains. Teman-teman kita berhasil menyumbangkan empat medali emas, satu medali perak, dua medali perunggu serta satu gelar Honorable Mention pada Olimpiade Fisika Asia (OFA) VI yang di selenggarakan di Pakanbaru, Riau, bulan April 2005 kemarin.

Medali emas Indonesia disumbangkan Ali Sucipto T, Purnawirman, Andhika Putra dan Michael Adrian. Kita kenalan lebih dekat dengan Ali Sucipto dan Purnawirman dulu ya.

Ali Sucipto

Ali yang berpostur tinggi-besar dan berkaca mata minus ini adalah siswa SMA Xaverius, Palembang, Sumatera Selatan. Sejak SD, ia selalu menjadi bintang kelas. Tapi bukan berarti Ali langsung suka dengan Fisika. Rasa sukanya timbul waktu melihat kakak seniornya di SMA Xaverius mengukir prestasi di bidang ini.

Kebetulan juga ia akrab dengan kakak seniornya itu. Jadi deh Ali tertular semangat untuk mengolah Fisika. Hasilnya, sejak kelas II SMA ia sudah masuk program training Olimpiade Fisika di sekolah. Dan ternyata kecintaannya pada Fisika berbuah hasil.

Ali yang lahir di Palembang tahun 1987 ini mengaku sangat percaya diri waktu menghadapi Olimpiade Fisika tahun ini. "Terus terang, sejak awal saya sangat percaya diri, karena soal-soalnya tidak jauh beda dengan konsep dasar yang dipelajari," kata pengagum ilmuwan Amerika, Richard Phillips Feynman.

Cita-citanya setelah keberhasilan ini adalah meraih kembali medali emas pada Olimpiade Internasional Spanyol tahun depan.

Purnawirman

Bisa meraih medali emas untuk negara jelas merupakan suatu prestasi yang membanggakan. Hal itulah yang dirasakan oleh Purnawirman, pelajar SMA I Pekanbaru. Sejak SMP, Purnawirman memang sangat menyukai pelajaran Fisika. Dibantu orangtua, kakak-kakak kelas dan gurunya di sekolah, ia pun kemudian berhasil memasuki seleksi demi seleksi untuk menjadi tim nasional Olimpiade Fisika.

Purnawirman yang lahir 8 Desember 1987 di Riau ini sangat terinspirasi oleh Albert Einstein dan Richard Feynman. Berkat kisah penelitan dua ilmuwan tersebut, Purnawirman pun bercita-cita untuk menjadi ilmuwan Fisika. Sama seperti Ali Sucipto, ia juga bertekad untuk mengulang kesuksesan di Olimpiade Fisika Internasional di Spanyol. (sekolahindonesia.com)

Wednesday, August 31, 2005

Profil: MICHAEL ADRIAN DAN ANDIKA PUTRA

Indonesia kembali mengukir prestasi di bidang sains. Teman-teman kita berhasil menyumbangkan empat medali emas, satu medali perak, dua medali perunggu serta satu gelar Honorable Mention pada Olimpiade Fisika Asia (OFA) VI yang di selenggarakan di Pakanbaru, Riau, bulan April 2005 kemarin.

Medali emas Indonesia disumbangkan Ali Sucipto T, Purnawirman, Andika Putra dan Michael Adrian. Kalau kemarin kita sudah berkenalan dengan Ali Sucipto dan Purnawirman, sekarang giliran Michael Adrian dan Andhika Putra.

Michael Adrian

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Ini bisa dibuktikan lewat pengalaman Michael Adrian. Siswa SMA Regina Pacis, Bogor, ini pernah gagal pada seleksi tingkat kota untuk Tim Olimpiade Fisika sekitar dua tahun yang lalu. Tapi karena semangatnya yang kuat ditambah dengan kerja keras, Michael di kemudian hari bukan hanya bisa lolos seleksi tapi juga mampu merebut medali emas untuk Indonesia.

Dengan postur tubuh tinggi dengan rambut lurus yang tersisir rapih, Michael lebih terlihat seperti seorang model ketimbang ilmuwan fisika. Memang pada mulanya, ia tidak suka pelajaran Fisika. Tapi begitu masuk SMA Regina Pacis, Michael mengaku terkesan dan merasa suka pelajaran Fisika. Ditambah dukungan dari guru dan orangtua, ia pun mulai memantapkan kaki di bidang ini.

Michael, yang lahir 10 Januari 1987, memiliki impian untuk kembali meraih medali emas di Olimpiade Fisika Internasional di Spanyol pada Juli mendatang. Selain itu, pengagum Isaac Newton ini berobsesi untuk melanjutkan pendidikannya di ITB, Bandung.

Andika Putra

Rasa gugup di awal lomba tidak menghalangi Andika Putra untuk meraih satu medali emas pada Olimpiade Fisika Asia VI ini. Siswa kelas II SMA Sutomo I, Medan, ini mengaku selalu merasa gugup ketika pertama kali menerima soal yang dilombakan, baik itu soal teori maupun eksperimen. Namun berkat penguasaan teori dan konsep-konsep dasar yang dipahaminya, Andika pun kemudian sukses mengerjakan semua soal dengan mantap.

Berbeda dengan Michael yang ingin kuliah di negeri sendiri, Andika lebih memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Amerika Serikat. Bagi Andika, yang juga pengagum Isaac Newton, kemenangannya di Olimpiade Riau adalah persembahan untuk semua bangsa Indonesia.

Seperti ketiga rekan lainnya yang ikut menyumbang medali emas di Riau, Andika pun ingin mengulang kesuksesan pada Olimpiade Fisika Internasional di Spanyol bulan Juli mendatang.(sekolahindonesia.com)

Profil: AGNES MONICA AND THE STORY GOES

Siapa yang belum kenal gadis satu ini? Hampir semua remaja di Indonesia sepertinya sudah mengetahui siapa Agnes dan apa yang membuatnya terkenal. Agnes telah menjadi seorang bintang serba bisa, karena memang begitu banyak bidang yang dia lakoni. Sebut saja penyanyi, presenter, artis sinetron dan tentu saja, model iklan. Hampir semua bidang yang dia masuki berjalan sukses, bahkan di bidang sinetron Agnes terpilih sebagai terfavorit selama tiga tahun berturut-turut. Hebat gak sih?

Agnes, yang lahir tanggal 1 Juni 1986 dari pasangan Ricky Mulyono dan Jenny Siswono ini, memulai debut seninya sebagai penyanyi cilik. Profesi 'selingan' di antara jadwal sekolah dan kursusnya yang padat ini dia jalankan dengan serius dan tekun hingga menelurkan beberapa album, yakni Si Meong, Yess, Bala-Bala dan Tralala-Trilili. Agnes tergolong murid yang cerdas di sekolahnya, SD Tarakanita Pluit Jakarta. Saban tahun tidak pernah dirinya luput dari gelar juara kelas dan sekolah. Jadwal kegiatannya semasa kecil kalau dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya memang terbilang padat. Selepas sekolah dia mengikuti les piano dan bahasa Inggris. Dalam sebulan, ada 3 sampai 5 kali show pertunjukan yang kerap dia jalani. Sejak kecil tampaknya Agnes telah dididik oleh orang tuanya untuk bekerja keras demi meraih cita-cita.

Lepas dari SD Tarakanita, Agnes melanjutkan pendidikannya di SLTP Pelita Harapan. Jadwalnya makin padat dengan kesibukan barunya sebagai presenter acara Video Anak Anteve (VAN) dan Tralala-Trilili di RCTI. Keseriusannya dalam bekerja sudah terlihat sejak kecil. Ajang penghargaan Panasonic Awards 1999 menganugerahinya sebagai Presenter Acara Anak-Anak Terbaik.

Kesuksesannya tersebut seakan memompa Agnes untuk melompat lebih jauh lagi. Kali ini dia memasuki dunia sinetron dengan melakoni peran Lulu dalam serial tv Lupus Milenia di Indosiar. Selain itu Agnes juga sempat berakting di serial Mr. Hologram dan sebuah film tv di SCTV. Wajahnya pun makin banyak muncul baik sebagai model majalah remaja maupun model iklan beberapa produk.

Puncak karirnya di dunia sinetron terjadi ketika dia memerankan tokoh Dini dalam serial remaja populer Pernikahan Dini di RCTI. Agnes yang saat itu masih berusia 16 tahun ini terpilih sebagai Bintang Sinetron Wanita Terfavorit Panasonic Awards tahun 2001. Karirnya di dunia sinetron pun makin mengkilap dengan dibintanginya beberapa serial tv, seperti Ciuman Pertama dan Kejarlah Daku Kau Kutangkap. Hasilnya siswi SMU Pelita Harapan ini terpilih lagi sebagai Bintang Sinetron Terfavorit pada ajang yang sama di tahun berikutnya. Ini tentu bukan perjuangan yang mudah karena Agnes mampu menyisihkan bintang-bintang sinetron lain yang di atas kertas lebih 'senior'.

Dan kini di usianya yang ketujuh belas, Agnes menapaki lagi dunia seni suara yang dulu pernah dilakoninya. Sebetulnya bisa saja bagi Agnes untuk membuat album di saat namanya melambung sebagai artis sinetron. Tapi dia lebih memilih untuk melakoni semuanya satu persatu untuk memperoleh hasil yang maksimal. Kerja keras memang sudah seakan melekat dalam diri Agnes. Tujuh bulan lamanya dia bekerja serius di studio untuk materi albumnya. Dan untuk mengolah kemampuan vokalnya lebih dalam lagi, dia tidak segan untuk belajar di Elfa Seciora dan Bertha. Bukan itu saja. Keseriusan Agnes juga terlihat dalam pemilihan materi lagunya yang merupakan karya penulis lagu kondang, macam Ahmad Dani dan Melly Goeslow. Hasilnya, album yang berjudul And The Story Goes.. ini terbilang album yang cukup matang bagi seorang penyanyi remaja.

Masih butuh banyak waktu untuk melihat apakah album Agnes kali ini akan sukses - secemerlang karirnya di dunia sinetron. Namun, seperti yang selalu dikatakannya dalam setiap wawancara, kesuksesan bukanlah target utama, tapi kalau kita mau bekerja keras dengan serius dan tekun serta selalu mau belajar segala sesuatu, otomatis kesuksesan akan datang dengan sendirinya. Bravo! (sekolahindonesia.com)

Profil: ALEXANDRA ATMASOEBRATA - Pembalap gokart wanita

Inilah satu-satunya pembalap gokart wanita yang mewakili Indonesia di ajang Asian Champion Malaysia. Alexandra Atmasoebrata memang ingin membuktikan kalau dunia pembalap dan otomotif tidak selamanya harus identik dengan kaum lelaki. Bahkan kalau memang dikerjakan dengan serius bisa menuai prestasi.

Andra, begitu ia biasa disapa, memang sudah punya garis keturunan pembalap. Ayahnya, Alex Atmasoebrata, adalah seorang mantan pembalap nasional. Tidak heran kalau kemudian Andra sedari usia 12 tahun sudah diarahkan ayahnya untuk menjadi seorang pembalap. Pertama-tamanya memang hanya sekedar ikut latihan kemudian mencoba terjun di arena balapan.

Siswa kelas dua SMA Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta ini sudah mengukir banyak prestasi di ajang balap gokart. Pada tahun 2002, ia berhasil meraih Juara Nasional Gokart Kelas Junior Rotax Maz. Setahun kemudian, ia mencoba kompetisi di tingkat Nasional dan Asia dan menyabet juara II. Tahun 2004, di Kejurnas Gokart seri IV Andra berhasil mendapatkan gelar Juara I.

Kini Andra sedang berkonsentrasi untuk bisa maju di ajang Formula. Dan ia sudah memulainya di tahun 2004 kemarin dengan mengikuti Formula Campus. Tidak tanggung-tanggung, predikat juara II pun berhasil ia capai. Kata Andra, Formula Campus adalah tangga untuk bisa masuk ke jenjang formula yang lebih tinggi lagi. Bukan tidak mungkin kalau Formula 1 akan ditembusnya.

Berprestasi di ajang olahraga, tidak membuat Andra lupa dengan kegiatan belajarnya. Porsi latihan gokart ia lakukan di akhir pekan. Hanya kalau ada pertandingan saja, ia minta ijin ke sekolah. Resep keberhasilannya adalah istirahat yang cukup dan tentu saja latihan dengan keras. Kemenangan bagi Andra mempunyai arti spesial, sekecil apapun ajang balap tersebut. Karena itu Andra tidak gentar untuk bersaing dengan para pembalap pria untuk bisa menuai prestasi. Go Girl! (sekolahindonesia.com)

Pelajar Indonesia Raih Perak, Perunggu di Olimpiade Informatika

JAKARTA--MIOL: Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) 2005 meraih prestasi yang cukup gemilang dalam Olimpiade Informatika (IOI) ke-17 di Nowy Sacz, Polandia, dengan membawa pulang dua medali perak dan satu perunggu.

Keterangan pers TOKI yang dikutip Antara, Jumat menyebutkan, kemenangan tersebut menyamai prestasi yang telah diukir oleh tim Indonesia pada tahun 2004, ketika berkompetisi dalam IOI ke-16 di Athena, Yunani.

TOKI 2005 terdiri atas empat orang kontestan: Adrian Kurniadi (SMA Sang Timur Jakarta), Derianto Kusuma (SMA Kanisius Jakarta), Sonny Budiman Sasaka (SMA St. Luis 1 Surabaya), dan Arief Widhiyasa (SMAN 1 Singaraja Bali).

Tim juga diperkuat oleh seorang external contestant, yakni Dennis Andhika Suryawijaya (SMAN 1 Magelang).

Dalam kompetisi yang digelar 18-24 Agustus 2005 itu, Adrian Kurniadi memperoleh nilai 434 dari nilai maksimal 600, atau berada di peringkat 50. Sementara Derianto Kusuma meraih nilai 413 (rangking 58).

Dengan nilai yang diraihnya tersebut, Adrian dan Derianto berhak mendapatkan medali perak. Sedangkan Sonny yang meperoleh nilai 390 (peringkat 73) meraih medali perunggu.

Lebih lanjut menurut siaran pers TOKI, nilai tertinggi (absolute winner) alias penyabet nilai 600 dalam kompetisi itu diraih dua orang siswa asal China, Amerika Serikat (AS), dan Ukraina (masing-masing satu orang).

IOI ke-17 diikuti oleh 276 peserta dari 74 negara. Berdasarkan jumlah medali yang diperoleh, kontingen Indonesia berada di peringkat 19-22, bersama Estonia, Italia, dan Latvia.

Hasil tersebut menempatkan Indonesia di atas Singapura, Inggris, Belanda, Australia, dan beberapa negara yang dikenal sebagai negara maju di bidang teknologi.

Untuk posisi juara umum dalam IOI Polandia diduduki oleh China, Amerika, dan Slovakia. Ketiga negara tersebut sama-sama berhasil memperoleh empat emas dari empat siswa mereka yang bertanding.

"Pencapaian ini sebenarnya di bawah target kami, karena kami berharap pada tahun 2005 bisa membawa pulang medali emas," kata Koordinator Humas TOKI Fauzan Joko, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya.

Fauzan menjelaskan, meski target tidak tercapai namun prestasi yang menyamai tahun 2004 sudah cukup melegakan, jika melihat kerja keras yang telah dilakukan oleh kontestan asal Indonesia.

Lebih lanjut ia mengatakan, di tengah sorotan tajam terhadap dunia pendidikan di Indonesia, ternyata para pelajar bisa mempersembahkan hasil yang terbaik demi mengharumkan nama bangsa di dunia internasional melalui ajang kompetisi informatika ini.

Ia juga menegaskan, TOKI direncanakan tiba kembali di tanah air pada Jumat (26/8) pukul 18.00 WIB.

Selanjutnya, Panitia TOKI bersama Unit Pengembangan Wawasan Keilmuan, Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Departemen Pendidikan Nasional akan segera mempersiapkan seleksi nasional untuk TOKI 2006.

Seleksi juga dilakukan sebagai bagian dari Olimpiade Sains Nasional 2005 di Jakarta pada 4-9 September 2005.

IOI ke-18 yang rencananya digelar di Merida, Yucatan, Mexico pada 19-26 Agustus 2006, bakal diikuti empat pelajar terbaik bangsa Indonesia. (Media Indonesia, Jum'at, 26 Agustus 2005)